Kamis, 09 September 2010

KUMARIN

KUMARIN

A. PENGERTIAN KUMARIN

Kumarin merupakan senyawa atsiri yang terbentuk terutama dari turunan glukosa nonatsiri saat penuaan atau pelukaan. Hal ini penting terutama ada tumbuhan alfalfa dan semanggi manis di mana kumarin menyebabkan timbulnya aroma yang khas sesaat setelah kedua tumbuhan itu dibabat. Para peneliti telah mengembangkan aglur semanggi tertentu yang mengandung sedikit kumarin dan strain lainnya yang mengandung kumarin dalam bentuk terikat. Semua galur itu secara ekonomi sangat penting karena kumarin bebas dapat berubah menjadi produk yang beracun, dikumarol, jika semanggi rusak selama penyimpanan. Dikumarol adalah senyawa antipenggumpalan yang menyebabkan penyakit semanggi manis (penyakit perdarahan) pada hewan ruminansia (pemamah biak seperti sapi) yang memakan tumbuhan yang mengandung dikumarol.

Senyawa kumarin dan turunannya banyak memiliki aktivitas biologis diantaranya sebagai antikoagulan darah, antibiotik dan ada juga yang menunjukan aktivitas menghambat karsinogenik. Selain itu kumarin juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan parfum dan sebagai bahan fluorisensi pada industry tekstil dan kertas (Murray, 1982). Kumarin banyak terdapat pada tumbuhan Angiospermae dan tidak jarang pada Gymnospermae serta tumbuhan tingkat rendah. Pada umumnya terdapat pada Rutaceae, Leguminoceae, Umbelliferae dan Graminae. Jeruk puruk (Citrus hystrik DC) merupakan salah satu jenis jeruk dari family Rutaceae .

Senyawa kumarin yang berasal dari buah jeruk nipis juga telah dilaporkan oleh Murakami (1999). Jeruk purut mengandung 3 senyawa kumarin yaitu bergamottin, oksipeucedanain, 5-[6’,7’-dihidroksi-3’,7’-dimetil-2-oktenik)oksi] prosalen yang berfungsi sebagai inhibitor dan penghambat pembentukan gas NO dalam sel. Gas NO merupakan radikal bebas yang dapat menyebabkan mutagenesis deaminasi basa DNA.

Skopoletin adalah kumarin beracun yang tersebar luas pada tumbuhan dan sering dijumpai dalam kulit biji. Skopoletin merupakan salah satu senyawa yang diduga menghambat perkecambahan biji tertentu, menyebabkan dormansi sampai senyawa tersebut tercuci (misalnya, oleh hujan yang cukup lebat sehingga kelembapannya cukup bagi pertumbuhan kecambah). Jadi peranannya adalah sebagai penghambat alami perkecambahan biji.

Kumarin merupakan metabolit turunan sikimat yang terbentuk ketika fenil alanin dideaminasi dan dihiroksilasi menjadi asam trans-hidroksisinamat. Ikatan rangkap asam ini segera dikonversi menjadi bentuk cis melalui isomerisasi yang dikatalisasi oleh cahaya, menghasilkan pembentukan senyawa yang mempunyai gugus fenol dan asam yang berdekatan. Gugus-gugus ini kemudian bereaksi secara intramolekuler untuk membentuk lakton dan inti kumarin basa, dicirikan oleh senyawa kumarin itu sendiri, berperan dalam memberikan aroma jerami yang segar. Kebanyakan senyawa kumarin dioksigenasi pada posisi C, yang dihasilkan dari hidroksilasi para asam sinamat untuk membentuk asam kumarat, namun sebelumnya mengalami hidroksilasi orto, isomerisasi dan pembentukan lakton.

Penyebaran kumarin terbatas didunia tanaman dan pernah digunakan untuk menggolongkan tanaman menurut keberadaan senyawa ini (kemotaksonomi). Kumarin umumnya ditemukan pada family Apiaceae, Rutaceae, Asperaceae, dan Fabaceae.

Beberapa kumarin merupakan senyawa fitoaleksin dan disintesis secara de novo oleh tanaman setelah diinfeksi oleh bakteri atau fungi. Sebagian besar senyawa fitoaleksin bersifat antimikroba. Sebagai contoh, kentang (Solanum tuberosum) mensintesis skopolatin jika diinfeksi fungi.

Sudah sejak lama diketahui bahwa hewan yang diberi makan semanggi manis (Melilotus officinale, Fabaceae) akan mati akibat hemoragi. Senyawa beracun yang menyebabkan efek samping ini adalah bishidroksikumarin (drimer kumarin terhidroksilasi) dikumarol.

Senyawa psoralen adalah kumarin yang memiliki cincin furan dan kadang-kadang disebut furokumarin atau furanokumarin karena adanya cincin ini. Contoh senyawa ini antara lain psoralen, bergapten, xantotoksin dan isopimpinelin. Karena memiliki banyak gugus kromofor, senyawa ini mudah mengabsorb cahaya dan berfluoresensi biru/kuning dibawah cahaya ultraviolet dengan panjang gelombang 320-380 nm. Senyawa ini mungkin diproduksi oleh tanaman sebagai mekanisme perlindungan terhadap dosis tinggi cahaya matahari. Beberapa kumarin dibuat menjadi sediaan tabir surya dan kosmetik untuk tujuan ini. Senyawa psoralen adalah senyawa khas family jeruk (Rutaceae) dan seledri (Apiaceae). Beberapa tanaman golongan ini dikenal sebagai “semak pembakar” karena kandungan psoralennya diketahui menyebabkan fototoksisitas.

Mekanisme fototoksisitas ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi diketahui bahwa senyawa psoralen bersifat karsinogenik dan mutagenik akibat terbentuknya aduksi dengan basa pirimidin DNA, seperti timin, melalui sikloadisi . Reaksi ini dapat terjadi dengan satu (monoaduksi) atau dua (diaduksi) basa piriidin dan mengakibatkan tautan-silang DNA.

Sediaan yang menggunakan tanaman Apiaceae dan Rutaceae yang mengandung seyawa psoralen telah lama digunakan unuk meningkatkan pigmentasi kulit pada penyakit vitiligo, suatu penyakit yang umum di derita di Timur Tengah dan terjadi akibat bagian kulit yang kekurangan pigmen melanin. Xantotoksin murni digunakan untuk mengobati vitiligo yang parah dan psoriasis serta diberikan secara oral dalam kombinasi denagn UV-A. Hasil pengobatan ini timbul pewarnaan dan pigmentasi pada daerah kulit yang tidak berpigmen serta perbikan kulit psroriasis dengan cara mengurangi proliferasi sel. Pengobatan ini bukannya tanpa resiko dan memerlukan peraturan yang sekasama untuk mencegah kanker kulit atau pembekakan katarak. Terapi inidisebut PUVA (psoralen + UV-A) atau terapi fotodinamik yakni suatu obat diaktivasi dengan bantuan sinar UV.

B. FUNGSI KUMARIN

Salah satu jenis kumarin yaitu preosen yang diisolasi pada tahun 1976 dari tumbuhan Ageratum houstanianum menyebabkan metamorfosis dini pada beberapa spesies serangga dengan turunnya tingkat hormon pemudaan serangga sehingga menyebabkan pembentukkan feromon oleh serangga jantan sehingga daya tarik seksual terhadap serangga betina berkurang. Dengan kemampuan seperti itu, preosen memiliki potensi sebagai insektisida yang berpengaruh hanya terhadap spesies sasaran.

C. GLIKOSIDA LAKTON

Meskipun kumarin tersebar luas dalam tanaman, tetapi glikosida yang mengandung kumarin (glikosida lakton) sangat jarang ditemukan. Beberapa glikosida dari turunan hidroksi kumarin ditemukan dalam bahan tanaman seperti skimin dalam Star anise Jepang, aeskulin dalam korteks.

Kumarin dan tonka bean adalah biji yang mengandung kumarin dari Dipteryx odorata dan Dipteryx oppositifolia (family Leguminosae). Dahulu digunakan dalam farmasi sebagai bahan aroma. Beberapa turunan kumarin masih digunakan karena sifat antikogulansianya. Produk alami lain yang mengandung kumarin adalah kantaridin dan santonin. Kantaridin digunakan untuk tujuan dermatologi. Santonin berasal dari bongkol bunga Artemisia china, Artemisia maritime (family Compositae) yang belum terbuka. Santonin dahulu digunakan sebagai obat cacing, tetapi karena kemungkinan menimbulkan keracunan di AS maka saat ini tidak lagi digunakan.

D. ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA KUMARIN PADA KULIT BUAH JERUK PURUT

Peralatan yang diperlukan untuk keperluan ekstrasi yaitu seperangkar alat destilasi, maserator, roatary evaporator, kolom kromatografi, lampu UV 365 nm, klromaton dan spectrometer UV-VIS shimadzu.

Sebanyak 1 kg kulit buah jeruk purut kering yang telah dibersihkan dan dikeringkan diudara diblender halus kemudian di maserasi dengan petroleum eter selama 3x 24 jam untuk menghilangkan minyak yang terkandung didalam sampel.

Residu dikeringkan diudara terbuka sampai bau petroleum eter hilang.

Dengan cara yang sama residu dimaserasi kembali dengan etanol selama 4x24 jam. Ekstrak etanol dikisatkan pada tekanan rendah pada suhu 30-40 °C dengan rotary efaporator.

Fraksi etanol kemudian difraksinasi menggunakan corong pisah berturut-turut dengan heksana dan etil asetat Kemudian semua fraksi dipekatkan dan dilakukan uji fitokimia.

Dari hasil uji fitokimia, mengarahkan bahwa fraksi etil asetat yang banyak mengandung senyawa kumarin. Kemudian fraksi etil asetat dilakukan pemisahan lebih lanjut dengan kromatografi kolom sistem step gradien polarity dan kromatotron. Senyawa yang diperoleh berupa cairan kental berwarna kuning. Hasil analisis KLT dengan menggunakan dua sistem eluen yaitu heksana : etil asetat (4 : 6) dan petroleum eter : etil asetat (6 : 4). Uji kualitatif isolat dengan hidroksilamin-HCl dalam basa memberikan warna ungu dan uji lampu Ultralviolet memberikan fluoresensi kuning kehijauan, sehingga dapat disimpulkan bahwa isolat tersebut adalah senyawa kumarin.

E. KESIMPULAN

Dari fraksi etil asetat kulit buah jeruk purut telah berhasil diisolasi senyawa kumarin berupa cairan kental berwarna kuning. Analisis KLT dengan dua sistem eluen memperlihatkan satu noda yang menunjukkan bahwa senyawa isolat sudah relatif murni. Berdasarkan uji fitokimia dengan hidroksilamin-HCl memberikan warna ungu dan hasil uji isolat jika dilihat dibawah lampu UV pada plat KLT menghasilkan fluoresensi kuning kehijauan sehingga dapat disimpulkan bahwa isolat tersebut adalah senyawa kumarin.

DAFTAR PUSTAKA

· http://id.wikipedia.org/wiki/Kumarin

· Gunawan, Didit dan Sri Mulyani, 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I, Jakarta: Penebar Swadaya

· Heinrich, Michael, dkk, 2005, Farmakognosi dan Fitoterapi, Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar