Kamis, 09 September 2010

NUCLEOSIDE REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBITOR (NRTI)

NUCLEOSIDE REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBITOR

(NRTI)

DEFINISI

Golongan obat anti-HIV pertama adalah nucleoside reverse transcriptase inhibitor atau NRTI, juga disebut analog nukleosida. Obat golongan ini menghambat langkah keempat di atas, yaitu bahan genetik HIV dipakai untuk membuat DNA dari RNA. Obat dalam golongan ini yang disetujui di AS dan masih dibuat adalah:

  • 3TC (lamivudine)
  • Abacavir (ABC)
  • AZT (ZDV, zidovudine)
  • d4T (stavudine)
  • ddI (didanosine)
  • Emtricitabine (FTC)

NRTI atau Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors merupakan ARV yang juga bekerja pada tahap replikasi virus. Perbedaan antara NRTI dengan NNRTI terletak pada mekanisme kerjanya. NRTI mengandung nucleotide yang digunakan oleh enzim reverse transcriptase untuk mengubah RNA menjadi DNA. Dengan menggunakan nucleotide dari NRTI, DNA yang dihasilkan oleh reverse transcriptase akan rusak sehingga menghambat replikasi virus. NRTI backbone adalah kombinasi 2 NRTI yang digunakan bersamaan dengan NNRTI yang fungsinya menguatkan kerja antiretroviral. Kombinasi NRTI yang dianjurkan adalah zidovudine + lamivudine; didanosine + lamivudine; dan zidovudine + didanosine.

CONTOH OBAT

Zidovudine

Nama dagang di Indonesia: Retrovir (GlaxoSmithKline)

Indikasi: Infeksi HIV asimtomatik

Kontra indikasi: Haemoglobin rendah, neutrofil rendah, hyperbilirubinemia
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

· Bentuk sediaan : Kapsul: 100 mg. Tablet: 300 mg. Syrup: 10 mg/mL

· Pediatric dose: 160 mg per m2 luas permukaan tubuh.

· Aturan pakai : Diberikan diberikan setiap 8 jam

Efek samping: Anemia, neuropathy, dizziness, drowsiness

Lamivudine

Nama dagang di Indonesia: 3TC ( GlaxoSmithKline)

Indikasi: Infeksi HIV

Kontra indikasi: Hipersensitifitas, pasien dengan neutrofil yang rendah
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

· Bentuk sediaan : Solution: 10mg/mL, Tablet kunyah: 100mg

· Pediatric dose: 4 mg/KgBB; dosis maksimal 150 mg

· Aturan pakai : Diberikan diberikan dua kali sehari

Efek samping: Pancreasistis, neuropathy, hipoglikemi, rhabdomyolysis

Didanosine

Nama dagang di Indonesia: Videx (Bristol-Myers Squibb)

Indikasi: Terapi pada dewasa dan anak – anak dengan infeksi HIV lanjut

Kontra indikasi: Hipersensitivitas
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

· Bentuk sediaan : Solution: 10mg/mL, 5mg/mL. Tablet: 100mg, 150mg, 300mg

· Pediatric dose: 90 - 150mg per m2 luas permukaan tubuh

· Aturan pakai : Diberikan diberikan dua kali sehari (setiap 12 jam)

Efek samping: Pancreasistis, neuropathy, hipoglikemi, rhabdomyolysis, diare, mual

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, 233, Info Master, Jakarta.

Anonim 2006, Guidelines for the use of Antiretroviral Agents in Pediatric HIV Infection, www.aidsinfo.gov

Anonim, 2006, British National Formulary, Edisi 52, 328, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.

KUMARIN

KUMARIN

A. PENGERTIAN KUMARIN

Kumarin merupakan senyawa atsiri yang terbentuk terutama dari turunan glukosa nonatsiri saat penuaan atau pelukaan. Hal ini penting terutama ada tumbuhan alfalfa dan semanggi manis di mana kumarin menyebabkan timbulnya aroma yang khas sesaat setelah kedua tumbuhan itu dibabat. Para peneliti telah mengembangkan aglur semanggi tertentu yang mengandung sedikit kumarin dan strain lainnya yang mengandung kumarin dalam bentuk terikat. Semua galur itu secara ekonomi sangat penting karena kumarin bebas dapat berubah menjadi produk yang beracun, dikumarol, jika semanggi rusak selama penyimpanan. Dikumarol adalah senyawa antipenggumpalan yang menyebabkan penyakit semanggi manis (penyakit perdarahan) pada hewan ruminansia (pemamah biak seperti sapi) yang memakan tumbuhan yang mengandung dikumarol.

Senyawa kumarin dan turunannya banyak memiliki aktivitas biologis diantaranya sebagai antikoagulan darah, antibiotik dan ada juga yang menunjukan aktivitas menghambat karsinogenik. Selain itu kumarin juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan parfum dan sebagai bahan fluorisensi pada industry tekstil dan kertas (Murray, 1982). Kumarin banyak terdapat pada tumbuhan Angiospermae dan tidak jarang pada Gymnospermae serta tumbuhan tingkat rendah. Pada umumnya terdapat pada Rutaceae, Leguminoceae, Umbelliferae dan Graminae. Jeruk puruk (Citrus hystrik DC) merupakan salah satu jenis jeruk dari family Rutaceae .

Senyawa kumarin yang berasal dari buah jeruk nipis juga telah dilaporkan oleh Murakami (1999). Jeruk purut mengandung 3 senyawa kumarin yaitu bergamottin, oksipeucedanain, 5-[6’,7’-dihidroksi-3’,7’-dimetil-2-oktenik)oksi] prosalen yang berfungsi sebagai inhibitor dan penghambat pembentukan gas NO dalam sel. Gas NO merupakan radikal bebas yang dapat menyebabkan mutagenesis deaminasi basa DNA.

Skopoletin adalah kumarin beracun yang tersebar luas pada tumbuhan dan sering dijumpai dalam kulit biji. Skopoletin merupakan salah satu senyawa yang diduga menghambat perkecambahan biji tertentu, menyebabkan dormansi sampai senyawa tersebut tercuci (misalnya, oleh hujan yang cukup lebat sehingga kelembapannya cukup bagi pertumbuhan kecambah). Jadi peranannya adalah sebagai penghambat alami perkecambahan biji.

Kumarin merupakan metabolit turunan sikimat yang terbentuk ketika fenil alanin dideaminasi dan dihiroksilasi menjadi asam trans-hidroksisinamat. Ikatan rangkap asam ini segera dikonversi menjadi bentuk cis melalui isomerisasi yang dikatalisasi oleh cahaya, menghasilkan pembentukan senyawa yang mempunyai gugus fenol dan asam yang berdekatan. Gugus-gugus ini kemudian bereaksi secara intramolekuler untuk membentuk lakton dan inti kumarin basa, dicirikan oleh senyawa kumarin itu sendiri, berperan dalam memberikan aroma jerami yang segar. Kebanyakan senyawa kumarin dioksigenasi pada posisi C, yang dihasilkan dari hidroksilasi para asam sinamat untuk membentuk asam kumarat, namun sebelumnya mengalami hidroksilasi orto, isomerisasi dan pembentukan lakton.

Penyebaran kumarin terbatas didunia tanaman dan pernah digunakan untuk menggolongkan tanaman menurut keberadaan senyawa ini (kemotaksonomi). Kumarin umumnya ditemukan pada family Apiaceae, Rutaceae, Asperaceae, dan Fabaceae.

Beberapa kumarin merupakan senyawa fitoaleksin dan disintesis secara de novo oleh tanaman setelah diinfeksi oleh bakteri atau fungi. Sebagian besar senyawa fitoaleksin bersifat antimikroba. Sebagai contoh, kentang (Solanum tuberosum) mensintesis skopolatin jika diinfeksi fungi.

Sudah sejak lama diketahui bahwa hewan yang diberi makan semanggi manis (Melilotus officinale, Fabaceae) akan mati akibat hemoragi. Senyawa beracun yang menyebabkan efek samping ini adalah bishidroksikumarin (drimer kumarin terhidroksilasi) dikumarol.

Senyawa psoralen adalah kumarin yang memiliki cincin furan dan kadang-kadang disebut furokumarin atau furanokumarin karena adanya cincin ini. Contoh senyawa ini antara lain psoralen, bergapten, xantotoksin dan isopimpinelin. Karena memiliki banyak gugus kromofor, senyawa ini mudah mengabsorb cahaya dan berfluoresensi biru/kuning dibawah cahaya ultraviolet dengan panjang gelombang 320-380 nm. Senyawa ini mungkin diproduksi oleh tanaman sebagai mekanisme perlindungan terhadap dosis tinggi cahaya matahari. Beberapa kumarin dibuat menjadi sediaan tabir surya dan kosmetik untuk tujuan ini. Senyawa psoralen adalah senyawa khas family jeruk (Rutaceae) dan seledri (Apiaceae). Beberapa tanaman golongan ini dikenal sebagai “semak pembakar” karena kandungan psoralennya diketahui menyebabkan fototoksisitas.

Mekanisme fototoksisitas ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi diketahui bahwa senyawa psoralen bersifat karsinogenik dan mutagenik akibat terbentuknya aduksi dengan basa pirimidin DNA, seperti timin, melalui sikloadisi . Reaksi ini dapat terjadi dengan satu (monoaduksi) atau dua (diaduksi) basa piriidin dan mengakibatkan tautan-silang DNA.

Sediaan yang menggunakan tanaman Apiaceae dan Rutaceae yang mengandung seyawa psoralen telah lama digunakan unuk meningkatkan pigmentasi kulit pada penyakit vitiligo, suatu penyakit yang umum di derita di Timur Tengah dan terjadi akibat bagian kulit yang kekurangan pigmen melanin. Xantotoksin murni digunakan untuk mengobati vitiligo yang parah dan psoriasis serta diberikan secara oral dalam kombinasi denagn UV-A. Hasil pengobatan ini timbul pewarnaan dan pigmentasi pada daerah kulit yang tidak berpigmen serta perbikan kulit psroriasis dengan cara mengurangi proliferasi sel. Pengobatan ini bukannya tanpa resiko dan memerlukan peraturan yang sekasama untuk mencegah kanker kulit atau pembekakan katarak. Terapi inidisebut PUVA (psoralen + UV-A) atau terapi fotodinamik yakni suatu obat diaktivasi dengan bantuan sinar UV.

B. FUNGSI KUMARIN

Salah satu jenis kumarin yaitu preosen yang diisolasi pada tahun 1976 dari tumbuhan Ageratum houstanianum menyebabkan metamorfosis dini pada beberapa spesies serangga dengan turunnya tingkat hormon pemudaan serangga sehingga menyebabkan pembentukkan feromon oleh serangga jantan sehingga daya tarik seksual terhadap serangga betina berkurang. Dengan kemampuan seperti itu, preosen memiliki potensi sebagai insektisida yang berpengaruh hanya terhadap spesies sasaran.

C. GLIKOSIDA LAKTON

Meskipun kumarin tersebar luas dalam tanaman, tetapi glikosida yang mengandung kumarin (glikosida lakton) sangat jarang ditemukan. Beberapa glikosida dari turunan hidroksi kumarin ditemukan dalam bahan tanaman seperti skimin dalam Star anise Jepang, aeskulin dalam korteks.

Kumarin dan tonka bean adalah biji yang mengandung kumarin dari Dipteryx odorata dan Dipteryx oppositifolia (family Leguminosae). Dahulu digunakan dalam farmasi sebagai bahan aroma. Beberapa turunan kumarin masih digunakan karena sifat antikogulansianya. Produk alami lain yang mengandung kumarin adalah kantaridin dan santonin. Kantaridin digunakan untuk tujuan dermatologi. Santonin berasal dari bongkol bunga Artemisia china, Artemisia maritime (family Compositae) yang belum terbuka. Santonin dahulu digunakan sebagai obat cacing, tetapi karena kemungkinan menimbulkan keracunan di AS maka saat ini tidak lagi digunakan.

D. ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA KUMARIN PADA KULIT BUAH JERUK PURUT

Peralatan yang diperlukan untuk keperluan ekstrasi yaitu seperangkar alat destilasi, maserator, roatary evaporator, kolom kromatografi, lampu UV 365 nm, klromaton dan spectrometer UV-VIS shimadzu.

Sebanyak 1 kg kulit buah jeruk purut kering yang telah dibersihkan dan dikeringkan diudara diblender halus kemudian di maserasi dengan petroleum eter selama 3x 24 jam untuk menghilangkan minyak yang terkandung didalam sampel.

Residu dikeringkan diudara terbuka sampai bau petroleum eter hilang.

Dengan cara yang sama residu dimaserasi kembali dengan etanol selama 4x24 jam. Ekstrak etanol dikisatkan pada tekanan rendah pada suhu 30-40 °C dengan rotary efaporator.

Fraksi etanol kemudian difraksinasi menggunakan corong pisah berturut-turut dengan heksana dan etil asetat Kemudian semua fraksi dipekatkan dan dilakukan uji fitokimia.

Dari hasil uji fitokimia, mengarahkan bahwa fraksi etil asetat yang banyak mengandung senyawa kumarin. Kemudian fraksi etil asetat dilakukan pemisahan lebih lanjut dengan kromatografi kolom sistem step gradien polarity dan kromatotron. Senyawa yang diperoleh berupa cairan kental berwarna kuning. Hasil analisis KLT dengan menggunakan dua sistem eluen yaitu heksana : etil asetat (4 : 6) dan petroleum eter : etil asetat (6 : 4). Uji kualitatif isolat dengan hidroksilamin-HCl dalam basa memberikan warna ungu dan uji lampu Ultralviolet memberikan fluoresensi kuning kehijauan, sehingga dapat disimpulkan bahwa isolat tersebut adalah senyawa kumarin.

E. KESIMPULAN

Dari fraksi etil asetat kulit buah jeruk purut telah berhasil diisolasi senyawa kumarin berupa cairan kental berwarna kuning. Analisis KLT dengan dua sistem eluen memperlihatkan satu noda yang menunjukkan bahwa senyawa isolat sudah relatif murni. Berdasarkan uji fitokimia dengan hidroksilamin-HCl memberikan warna ungu dan hasil uji isolat jika dilihat dibawah lampu UV pada plat KLT menghasilkan fluoresensi kuning kehijauan sehingga dapat disimpulkan bahwa isolat tersebut adalah senyawa kumarin.

DAFTAR PUSTAKA

· http://id.wikipedia.org/wiki/Kumarin

· Gunawan, Didit dan Sri Mulyani, 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I, Jakarta: Penebar Swadaya

· Heinrich, Michael, dkk, 2005, Farmakognosi dan Fitoterapi, Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Sabtu, 19 Juni 2010

PREFORMULASI ELIXIR PARACETAMOL

PREFORMULASI

ELIXIR PARACETAMOL

I. TUJUAN

Mahasiswa dapat membuat preformulasi dari sediaan elixir paracetamol dan dapat menguji sediaan tersebut dengan berbagai uji.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam istilah kimia farmasi, larutan dapat dipersiapkan dari campuran yang mana saja dari tiga macam keadaan zat yaitu padat, cair dan gas, misalnya suatu zat terlarut padat dapat dilarutkan baik dalam zat padat lainnya, cairan atau gas, dengan cara yang sama untuk zat rerlarut dan gas, ada 9 tipe campuran homogen yang mungkin dibuat. Bagaimanapun, dalam farmasi perhatian terhaap larutan sebagian besar terbataspada pembuatan larutan dari suatu zat padat, zat cair dalam suatu pelarut cair dan tidak begitu sering larutan suatu gas dalam pelarut cair.

Dalam istilah farmasi, larutan didefinisikan sebagai sediaan”cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karerna bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan ke dalam golongan produk lainnya”. Sesungguhnya, banyak produk farmasi yang menurut prinsip kimia fisik merupakan campuran homogen dari zat-zat terlarut yang dolarutkan dalam pelarut, menurut prinsip farmasi digolongkan ke dalam jenis produk lainnya. Misalnya larutan obat-obat dalam air yang mengandung gula digolongkan sebagai syrup; larutan yang mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan etil alkohol) disebut eliksir.

Larutan oral, syrup dan eliksir, dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa obat-obat itu diberikan dalam bentuk larutan, biasanya berarti bahwa apsorpsinya dalam sistem saluran cerna ke dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat dari pada dalam bentuk sedaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama.

Obat-obat cair menampilkan masalah menarik dalam rancangan bentuk sediaan. Banyak diantaranya merupakan zat-zat yang mudah menguap oleh karena harus disegel secara fisik dari atmosfer untuk menjamin keberadaannya. Masalah lainnya adalah bahwa obat-obat tersebut dimaksudkan untuk pemberian obat pada umumnya tidak dapat diformulasikan menjadi bentuk tablet, tanpa mengalami modifikasi obat yang besar.

Eliksir obat digunakan untuk keuntungan pengobatan dari zat obat yang ada. Umumnya, eliksir-eliksir resmi yang ada diperdagangkan mengandung zat obat tunggal. Keuntungan utama dari hanya satu obat tunggal yang terkandung, bahwa dosis yang diperlukan dapat dinaikkan atau diturunkan dengan meminum eliksir lebih banyak atau kurang, padahal bila dua atau lebih zat obat ada dalam sediaan yang sama, tidak mungkin meningkatkan atau menurunkan kadar satu zat obat yang diminum tanpa secara otomatis dan bersamaan mengatur dosis obat lain yang ada, perubahan yang tidak diinginkan.

Karena itu untuk pasien yang memerlukan minum lebih dari satu obat, banyak dokter memilih untuk minum sediaan yang terpisah dari tiap obat sehingga bila dibutuhkan pengaturan dosis satu obat, dapat dikerjakan tanpa dosis obat lainnya secara bersamaan ikut diatur. Eliksir analgetik/ antipiretik paracetamol 300 mg/10 ml digunakan untuk mengurangi/ menghilangkan nyeri dan menurunkan demam terutama pada pasien yang tidak tahan terhadap aspirin. Eliksir terutama digunakan untuk pasien pediatrik (anak-anak).

Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Untuk larutan (Solutio) steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada Injectiones. Di samping wadah harus mudah dikosongkan dengan cepat, besarnya kemasan boleh lebih dari 1 liter. Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat mengandung juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lain, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, dan digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama eliksir adalah etanol yang dimaksudkan mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilenglikol. Sirop gula dapat digunakan sebagai pengganti gula. Eliksir supaya disimpan dalam wadah tertutup rapat. Mixture dan solution tidak ada perbedaan prinsip dalam pengertian, hanya dikatakan larutan (Solutio) apabila zat yang terlarut hanya satu dan disebut Mixtura apabila zat yang terlarut adalah banyak. Contoh Solutio Citratis Magnesici dan Mixtura Brometorum.

Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molecular dalam cairan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20˚, kecuali dinyatakan lain menunjukkan 1 bagian bobot zat pada atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar.

Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti 1 g zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah ml pelarut.

III. FORMULA

Tiap 5 ml mengandung :

Acetaminopheum 120 mg

Glycerolum 2,5 ml

Propilenglycolum 500 µl

Sorbitoli solution 70% 1,25 ml

Aethanolum 500 µl

Zat tambahan yang cocok q.s

Aquadest ad 5 ml

IV. PERHITUNGAN DOSIS

Dosis standar :

Anak sampai 1 tahun = 1 sendok teh (5 ml)

1-5 tahun = 2 sendok teh (10 ml)

Lebih lanjut terlampir !!!

V. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan :

1. Neraca

2. Bekerglass

3. Botol sirup 60 ml

4. Sepatula

5. Batang pengaduk

6. Etiket dan kemasan

7. Piknometer

8. Viskometer

9. pH meter/kertas pH

Bahan yang digunakan :

1. Acetaminopheum

2. Glycerolum

3. Propilenglycolum

4. Sorbitoli solution 70%

5. Aethanolum

6. Essense apel

7. Pewarna hijau

8. Aquadest

VI. PERHITUNGAN BAHAN

Pembuatan sediaan elixir 60 ml :

Acetaminopheum 12 mg x 12 = 144 mg

Glycerolum 2,5 ml x 12 = 30 ml

Propilenglycolum 500 µl = 0,5 ml x 12 = 6 ml

Sorbitoli solution 70% 1,25 ml x 12 =15 ml

Aethanolum 500 µl = 0,5 ml x 12 = 6 ml

Zat tambahan yang cocok

* Zat pewangi (essence apel) q.s

* Zat pewarna (hijau) q.s

* Zat pengawet (Asam Benzoat) = 2 ml

Aquadest ad 60 ml

VII. CARA KERJA




Rounded Rectangle: Masukkan Glycerolum di dalam botol/wadah syrup.





Rounded Rectangle: Ambil Acetaminophen dan larutkan dengan Aethanolum




Rounded Rectangle: Masukkan semua campuran ke dalam botol yang berisi Glycerolum dan kocok.







Note: Kelarutan Acetaminophen dalam alkohol 1:7, dalam air 1:70

VIII. EVALUASI DAN UJI

Elixir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam. (Kristina, 2007)

Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan propilen glikol. Sebagai pengganti gula dapat digunakan sirup simplek. (Anonim, 1978). Namun pada preformulasi ini kami menggunakan Glycerolum sebagai pemanisnya.

Khasiat masing-masing bahan :

· Acetaminopheum : zat aktif sebagai analgetikum dan antipiretikum

· Glycerolum : pelarut, pemanis

· Propilenglycolum : pelarut

· Sorbitoli solution 70% : pelarut

· Aethanolum : pelarut

· Zat tambahan yang cocok :

* Zat pewangi (essence apel)

* Zat pewarna (hijau)

* Zat pengawet (Asam Benzoat)

· Aquadest : zat tambahan, pelarut

Pengujian sediaan:

1. Organoleptis

Diamati apakh elixir yang dibuat sudah sesuai dengan standar elixir yaitu berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap.

2. Kejernihan

Dilakukan dengan cara mengamati dengan mata sediaan larutan elixir, apakah ada partikelnya atau tidak bila tidak berarti larutan tersebut sudah jernih.

3. Densitas (Bobot Jenis)

Dilakukan denganmenggunakan piknometer yaitu dengan cara :

a. Ambil dan timbang piknometer yang bersih

b. Letakkan diatas arloji dan diisi denag larutan elixir yang akan diuji

c. Masukkan pikno kedalam bekerglass 200 ml yang berisi es dan gumpalan es

d. Biarkan sampai suhu 20°C

e. Segera ambil tetesan cairan yang berada diluar ujung kapiler dengan kertas saring menyedot sisi ujung kapiler terus tutup kapilernya dengan tudung cepat-cepat

f. Biarkan suhu mencapai suhu kamar terlebih dahulu, baru bagian luar pikno dilap

g. Timbang pikno dengan isinya

h. Bobot jenis dihitung dengan rumus

b-a

c – a

a = berat piknometer kosong

b = berat gliserin sebelum uji

c = berat gliserin setelah uji

4. Viskositas

Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain :
a. Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika ia mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui ( biasanya air ) untuk lewat 2 tanda tersebut.( Moechtar,1990 )

Jika h1 dan h2 masing-masing adalah viskositas dari cairan yang tidak diketahui dan cairan standar , r1 dan r2 adalah kerapatan dari masing-masing cairan, t1 dan t2 adalah waktu alir dalam detik.

Rumusnya adalah:

1h = ρ1 . t1

2h ρ2 . t2

η1 = ρ1 . t1 . h2

ρ2 . t2


b. Viskometer Hoppler
Berdasrkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. ( Moechtar,1990 )
c. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebt aliran sumbat. ( Moechtar,1990 )
d. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecapatan dan sampelnya digeser didalam ruang semit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar. ( Moechtar,1990 )

5. pH

Sediaan diukur pH nya dengan menggunakan pH meter, yaitu disesuaikan dengan pH usus karena sediaan diabsorbsi di usus jadi pH sediaan harus sama dengan pH usus.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Kristina, A.S, 2007, Kapita Selekta Dispensing I, Yogyakarta: Universitas Gadjahmada

Anonim, 1978, Formularium Nasional Edisi Kedua, Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Filzahazny, 2009, Elixir, http://filzahazny.wordpress.com/2009/03/18/elixir/, online at June 2010

Anonim, 2007, http://ilmu-kedokteran.blogspot.com/2007/11/all-about-viskositas-pipit.html, online at June 2010

X. KEMASAN

Terlampir