Sabtu, 19 Juni 2010

PREFORMULASI ELIXIR PARACETAMOL

PREFORMULASI

ELIXIR PARACETAMOL

I. TUJUAN

Mahasiswa dapat membuat preformulasi dari sediaan elixir paracetamol dan dapat menguji sediaan tersebut dengan berbagai uji.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam istilah kimia farmasi, larutan dapat dipersiapkan dari campuran yang mana saja dari tiga macam keadaan zat yaitu padat, cair dan gas, misalnya suatu zat terlarut padat dapat dilarutkan baik dalam zat padat lainnya, cairan atau gas, dengan cara yang sama untuk zat rerlarut dan gas, ada 9 tipe campuran homogen yang mungkin dibuat. Bagaimanapun, dalam farmasi perhatian terhaap larutan sebagian besar terbataspada pembuatan larutan dari suatu zat padat, zat cair dalam suatu pelarut cair dan tidak begitu sering larutan suatu gas dalam pelarut cair.

Dalam istilah farmasi, larutan didefinisikan sebagai sediaan”cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karerna bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan ke dalam golongan produk lainnya”. Sesungguhnya, banyak produk farmasi yang menurut prinsip kimia fisik merupakan campuran homogen dari zat-zat terlarut yang dolarutkan dalam pelarut, menurut prinsip farmasi digolongkan ke dalam jenis produk lainnya. Misalnya larutan obat-obat dalam air yang mengandung gula digolongkan sebagai syrup; larutan yang mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan etil alkohol) disebut eliksir.

Larutan oral, syrup dan eliksir, dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa obat-obat itu diberikan dalam bentuk larutan, biasanya berarti bahwa apsorpsinya dalam sistem saluran cerna ke dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat dari pada dalam bentuk sedaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama.

Obat-obat cair menampilkan masalah menarik dalam rancangan bentuk sediaan. Banyak diantaranya merupakan zat-zat yang mudah menguap oleh karena harus disegel secara fisik dari atmosfer untuk menjamin keberadaannya. Masalah lainnya adalah bahwa obat-obat tersebut dimaksudkan untuk pemberian obat pada umumnya tidak dapat diformulasikan menjadi bentuk tablet, tanpa mengalami modifikasi obat yang besar.

Eliksir obat digunakan untuk keuntungan pengobatan dari zat obat yang ada. Umumnya, eliksir-eliksir resmi yang ada diperdagangkan mengandung zat obat tunggal. Keuntungan utama dari hanya satu obat tunggal yang terkandung, bahwa dosis yang diperlukan dapat dinaikkan atau diturunkan dengan meminum eliksir lebih banyak atau kurang, padahal bila dua atau lebih zat obat ada dalam sediaan yang sama, tidak mungkin meningkatkan atau menurunkan kadar satu zat obat yang diminum tanpa secara otomatis dan bersamaan mengatur dosis obat lain yang ada, perubahan yang tidak diinginkan.

Karena itu untuk pasien yang memerlukan minum lebih dari satu obat, banyak dokter memilih untuk minum sediaan yang terpisah dari tiap obat sehingga bila dibutuhkan pengaturan dosis satu obat, dapat dikerjakan tanpa dosis obat lainnya secara bersamaan ikut diatur. Eliksir analgetik/ antipiretik paracetamol 300 mg/10 ml digunakan untuk mengurangi/ menghilangkan nyeri dan menurunkan demam terutama pada pasien yang tidak tahan terhadap aspirin. Eliksir terutama digunakan untuk pasien pediatrik (anak-anak).

Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Untuk larutan (Solutio) steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada Injectiones. Di samping wadah harus mudah dikosongkan dengan cepat, besarnya kemasan boleh lebih dari 1 liter. Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat mengandung juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lain, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, dan digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama eliksir adalah etanol yang dimaksudkan mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilenglikol. Sirop gula dapat digunakan sebagai pengganti gula. Eliksir supaya disimpan dalam wadah tertutup rapat. Mixture dan solution tidak ada perbedaan prinsip dalam pengertian, hanya dikatakan larutan (Solutio) apabila zat yang terlarut hanya satu dan disebut Mixtura apabila zat yang terlarut adalah banyak. Contoh Solutio Citratis Magnesici dan Mixtura Brometorum.

Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molecular dalam cairan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20˚, kecuali dinyatakan lain menunjukkan 1 bagian bobot zat pada atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar.

Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti 1 g zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah ml pelarut.

III. FORMULA

Tiap 5 ml mengandung :

Acetaminopheum 120 mg

Glycerolum 2,5 ml

Propilenglycolum 500 µl

Sorbitoli solution 70% 1,25 ml

Aethanolum 500 µl

Zat tambahan yang cocok q.s

Aquadest ad 5 ml

IV. PERHITUNGAN DOSIS

Dosis standar :

Anak sampai 1 tahun = 1 sendok teh (5 ml)

1-5 tahun = 2 sendok teh (10 ml)

Lebih lanjut terlampir !!!

V. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan :

1. Neraca

2. Bekerglass

3. Botol sirup 60 ml

4. Sepatula

5. Batang pengaduk

6. Etiket dan kemasan

7. Piknometer

8. Viskometer

9. pH meter/kertas pH

Bahan yang digunakan :

1. Acetaminopheum

2. Glycerolum

3. Propilenglycolum

4. Sorbitoli solution 70%

5. Aethanolum

6. Essense apel

7. Pewarna hijau

8. Aquadest

VI. PERHITUNGAN BAHAN

Pembuatan sediaan elixir 60 ml :

Acetaminopheum 12 mg x 12 = 144 mg

Glycerolum 2,5 ml x 12 = 30 ml

Propilenglycolum 500 µl = 0,5 ml x 12 = 6 ml

Sorbitoli solution 70% 1,25 ml x 12 =15 ml

Aethanolum 500 µl = 0,5 ml x 12 = 6 ml

Zat tambahan yang cocok

* Zat pewangi (essence apel) q.s

* Zat pewarna (hijau) q.s

* Zat pengawet (Asam Benzoat) = 2 ml

Aquadest ad 60 ml

VII. CARA KERJA




Rounded Rectangle: Masukkan Glycerolum di dalam botol/wadah syrup.





Rounded Rectangle: Ambil Acetaminophen dan larutkan dengan Aethanolum




Rounded Rectangle: Masukkan semua campuran ke dalam botol yang berisi Glycerolum dan kocok.







Note: Kelarutan Acetaminophen dalam alkohol 1:7, dalam air 1:70

VIII. EVALUASI DAN UJI

Elixir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam. (Kristina, 2007)

Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan propilen glikol. Sebagai pengganti gula dapat digunakan sirup simplek. (Anonim, 1978). Namun pada preformulasi ini kami menggunakan Glycerolum sebagai pemanisnya.

Khasiat masing-masing bahan :

· Acetaminopheum : zat aktif sebagai analgetikum dan antipiretikum

· Glycerolum : pelarut, pemanis

· Propilenglycolum : pelarut

· Sorbitoli solution 70% : pelarut

· Aethanolum : pelarut

· Zat tambahan yang cocok :

* Zat pewangi (essence apel)

* Zat pewarna (hijau)

* Zat pengawet (Asam Benzoat)

· Aquadest : zat tambahan, pelarut

Pengujian sediaan:

1. Organoleptis

Diamati apakh elixir yang dibuat sudah sesuai dengan standar elixir yaitu berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap.

2. Kejernihan

Dilakukan dengan cara mengamati dengan mata sediaan larutan elixir, apakah ada partikelnya atau tidak bila tidak berarti larutan tersebut sudah jernih.

3. Densitas (Bobot Jenis)

Dilakukan denganmenggunakan piknometer yaitu dengan cara :

a. Ambil dan timbang piknometer yang bersih

b. Letakkan diatas arloji dan diisi denag larutan elixir yang akan diuji

c. Masukkan pikno kedalam bekerglass 200 ml yang berisi es dan gumpalan es

d. Biarkan sampai suhu 20°C

e. Segera ambil tetesan cairan yang berada diluar ujung kapiler dengan kertas saring menyedot sisi ujung kapiler terus tutup kapilernya dengan tudung cepat-cepat

f. Biarkan suhu mencapai suhu kamar terlebih dahulu, baru bagian luar pikno dilap

g. Timbang pikno dengan isinya

h. Bobot jenis dihitung dengan rumus

b-a

c – a

a = berat piknometer kosong

b = berat gliserin sebelum uji

c = berat gliserin setelah uji

4. Viskositas

Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain :
a. Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika ia mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui ( biasanya air ) untuk lewat 2 tanda tersebut.( Moechtar,1990 )

Jika h1 dan h2 masing-masing adalah viskositas dari cairan yang tidak diketahui dan cairan standar , r1 dan r2 adalah kerapatan dari masing-masing cairan, t1 dan t2 adalah waktu alir dalam detik.

Rumusnya adalah:

1h = ρ1 . t1

2h ρ2 . t2

η1 = ρ1 . t1 . h2

ρ2 . t2


b. Viskometer Hoppler
Berdasrkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. ( Moechtar,1990 )
c. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebt aliran sumbat. ( Moechtar,1990 )
d. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecapatan dan sampelnya digeser didalam ruang semit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar. ( Moechtar,1990 )

5. pH

Sediaan diukur pH nya dengan menggunakan pH meter, yaitu disesuaikan dengan pH usus karena sediaan diabsorbsi di usus jadi pH sediaan harus sama dengan pH usus.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Kristina, A.S, 2007, Kapita Selekta Dispensing I, Yogyakarta: Universitas Gadjahmada

Anonim, 1978, Formularium Nasional Edisi Kedua, Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Filzahazny, 2009, Elixir, http://filzahazny.wordpress.com/2009/03/18/elixir/, online at June 2010

Anonim, 2007, http://ilmu-kedokteran.blogspot.com/2007/11/all-about-viskositas-pipit.html, online at June 2010

X. KEMASAN

Terlampir

Sabtu, 24 April 2010

pemberian obat pada hewan uji

CARA PEMBERIAN vs PROFIL FARMAKOKINETIK OBAT

Cara pemberian obat yang berbeda-beda melibatkan proses absorbsi obat yang berbeda-beda pula. Proses absorbsi merupakan dasar yang penting dalam menentukan aktivitas farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses absorbsi akan mempengaruhi efek obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan.

Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan adalah pemberian obat per oral, karena mudah, aman, dan murah [1]. Pada pemberian secara oral, sebelum oba masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih dahulu harus mengalami absorbsi pada saluran cerna.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses absorbsi obat pada saluran cerna antara lain:
a. Bentuk Sediaan
Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorbsi obat, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Dalam bentuk sediaan yang berbeda, maka proses absorpsi obat memerlukan waktu yang berbeda-beda dan jumlah ketersediaan hayati kemungkinan juga berlainan.
b. Sifat Kimia dan Fisika Obat
Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi kekuatan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal atau polimorfi, kelarutan dalam lemak atau air, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi [2]. Absorpsi lebih mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.
c. Faktor Biologis
Antara lain adalah pH saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna, waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh darah pada tempat absorpsi.
d. Faktor Lain-lain
Antara lain umur, makanan, adanya interaksi obat dengan senyawa lain dan adanya penyakit tertentu.

Pemberian sediaan obat dapat dilakun melaului dua rute utama yaitu:
Parenteral : intravena, intraarteri, intramuscular, intraperitonial
Nonparenteral : peroral

Pemberian secara peroral
Oral Gavage. Gavaging digunakan untuk dosis seekor binatang dengan volume tertentu materi langsung ke dalam perut. Hanya khusus, tersedia secara komersial jarum gavage harus digunakan untuk mencoba prosedur ini. Jarum untuk injeksi secara peroral (Oral Gavage) memiliki karakter ujung tumpul (bulat). Hal ini untuk meminimalisir terjadinya luka atau cedera ketika hewan uji akan diberikan sedian uji. Proses pemberian dilakukan dengan teknik seperti Tempatkan ujung atau bola dari jarum ke mulut binatang. Secara perlahan geser melewati ujung belakang lidah. Pastikan bahwa oral gavage tidak masuk ke dalam tenggorokan karena akan berdampak buruk. Hal ini dapat diketahui bila dari hidung hewan uji keluar cairan seperti yang kita berikan menunjukkan adanya kesalahan dalam proses pemberian.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRxJiMDzSFAg7jBxVM9MiH2iNNdXtxsM4RjVUJ_mUUlXcvBtQV-v6mOfx6jAG34UjMAFFPx6OzqFMQi0JHjLNGCcqJDna97AVZIqWbjyEGDeIGx5lbq2VB66g7oJbQOVLt0kAW8pf5WMwe/s320/oral_gavage.jpg
Kerugian pemberian per oral adalah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat. Karena ada obat-obat yang tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas pertama obat dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral, sublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan. Selain itu, kerugian pemberian melalui oral yang lain adalah ada obat yang dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien koma.

Pemberian obat secara parenteral memiliki beberapa keuntungan, yaitu: (1) efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral; (2) dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah; dan (3) sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugiannya antara lain dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, sulit dilakukan oleh pasien sendiri, dan kurang ekonomis.


Pemberian intravena (IV) tidak mengalami absorpsi tetapi langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara capat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita. Kerugiannya adalah mudah tercapai efek toksik karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, dan obat tidak dapat ditarik kembali.
Hangatkan hewan uji di bawah lampu panas atau alat pemanas lainnya, pastikan untuk tidak terlalu panas pada binatang. Suhu tidak boleh melebihi 85-90 ° Fahrenheit pada tingkat binatang. Lepaskan hewan uji dari sumber panas harus segera setiap perubahan dalam tingkat respirasi atau air liur berlebihan dapat diamati. Alat pemanas lainnya, seperti handwarmers sekali pakai, dapat digunakan sebagai pengganti lampu yang panas.

Prep ekor dengan 70% etanol. Memulai usaha suntikan di tengah atau sedikit bagian distal ekor. Dengan ekor ketegangan di bawah, masukkan jarum, bevel up, kira-kira sejajar dengan vena dan masukkan jarum minimal 3 mm ke dalam pembuluh darah. Dalam proses penyuntikan jangan sekali-kali memasukkan udara karean akan menyebabakan vena rusak atau tidak stabil. Menyuntikkan materi yang lambat, gerakan fluida. Anda harus dapat melihat vena jarum pucat jika diposisikan dengan benar.
Jika ada pembengkakan di tempat suntikan atau injeksi terjadi perlawanan, keluarkan jarum dan Masukkan kembali itu sedikit di atas awal injeksi.
Pemberian secara injeksi intravena menghasilkan efek yang tercepat, karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Efek lebih lambat diperoleh dengan injeksi intramuskular, dan lebih lambat lagi dengan injeksi subkutan karena obat harus melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGEq8ZUsmitkSAZtME1GY6y1UTSpL4N7g1_qYSqEAiY7YwHL0esu1hEZEm2qts5XTL2SeTwZhkEhG17x3sxHD-7x52fTsEcJpS9a8ynjQD2ENeGuIcreAaH_l3FdTKOwk7waylM0V9DDDs/s320/intravenous_injection.jpg




Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Metode injeksi menggunakan dua jari yaitu ibu jari dan jari telunjuk memegang tengkuk (kulit). Bersihkan area kulit yang mau disuntik dengan alkohol 70 %. Masukkan jarum suntik secara paralel dari arah depan menembus kulit.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNQ6fzUVnSecD3XZeNB-k8FpCnRcmKw21NRGUnUjJ3T7M4Kzw4GCwii8wvJmV3xR-vl7NayUoN3TGNztB1fc6kQ4aC89-NXR1Wj5ClfyRfYfuCUqJ8thzEMbZeKhjdpWtaWrjIT9p0LYQ5/s320/subcutaneous_injection.jpg

Injeksi intramuskular (IM) atau suntikkan melalui otot, kecepatan dan kelengkapan absorpsinya dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air. Absorpsi lebih cepat terjadi di deltoid atau vastus lateralis daripada di gluteus maksimus. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat akan dilepaskan secara berkala dalam bentuk depot obat.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_z0EcWMUsGn8IKlsTnWDw2M5mEaLYoTYaF8adsVj6xj_0piR9eBKdrIPMcBgAMwk7Y_ey7lcNrX52AKzlpLjyADaj3vZnl9xps5VuNEFktE5yAQtGcTLOLOghFcd0d2xCqLb6LVH6xfob/s320/method_2_injection.jpg

Injeksi intraperitoneal atau injeksi pada rongga perut tidak dilakukan untuk manusia karena ada bahaya infeksi dan adesi yang terlalu besar. Proses injeksi dilaku
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpWE0GcrPDNo7TfKIlCzuD1hIb0yKyNedLBgniW7cBJ9jv7zKBzwZAR891D1Ps1b1kbwgqWRuXgKO266y9B_B2D-KlleiI0lmkutaeCHwApNNha0Lz6898TgXS49FWf2PVh-63LtRdJZXz/s320/intraperitoneal_injection.jpgkan dengan teknik menahan tikus pada tengkuk. Mengekspos sisi ventral hewan, memiringkan kepala ke bawah pada sudut kecil. Preparasi situs dengan 70% etanol. Jarum yang steril harus ditempatkan, bevel atas, di bawah kuadran kanan atau kiri dari perut binatang. Masukkan jarum pada 30 ° sudut.

Perbaandingan rute pemberian terhadap profil farmakokinetik (absorbsi) dapat dilihat dalam grafik dibawah ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeO0kjs3Y8fgwzGYKybASuy2lXn_7vQsIQNCeRmi0K36D8DjwU0UO3_bPsbt8aDRk4gLuiUnSEKNoXsCEvb2jMvzciwfj9_fAvM4CicZa2SlFKSXl7HZsE1srlYyv5O1Oi0N3oUeUXxD2n/s320/ok3.jpg



Refference
Anonim, 2008, Injection, http://www.theodra.com/rodent_laboratory/injections.htm, akses Desember 2009.

Chester, 1998, Injection, http://www.answers.com/topic/injection, akses Desember 2009

Shika, L, 2009, Pengaruh cara pemberian,http://liew267.wordpress.com, akses tgl Desember 2009.

http://agiel-no vianto.blogspot.com/2010/02/pengaruh-cara-pemberian-versus-absorbsi.html